Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KECERDASAN SATPAM MENGATUR KEUANGAN


By.Redaksi
SuaraSatpam.Com - Berbicara tentang keuangan tentu ada hubungannya dengan penghasilan Satpam. Setiap bulan Satpam menerima gaji dengan penghasilan secara umum sama bila sesuai UMP/UMK daerah masing-masing baik Provinsi, Kabupaten/Kota lainnya. Besar kecilnya sudah diatur oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah artinya gaji Satpam setiap Provinsi bisa berbeda-beda.

Anggap saja mengacu kepada Ibu Kota DKI Jakarta dengan UMP sebesar Rp.Rp 4.641.854. Itupun kalau Satpamnya bekerja ditempat perusahaan/BUJP yang benar maksudnya membayar upah setiap bulannya sesuai dengan UMP/UMK. Sialnya bila menerima gaji dibawah UMP/UMK sudah pasti secara otomatis "Gali Lobang Tutup Lobang" atau "Tambal Sulam" lebih sederhanya lagi "Pinjam uang dengan Si A untuk mengembalikan hutang kepada Si B" dan seterusnya.

Analisa singkat, saya akan berbagi cerita selama menjadi anggota Satpam dalam mengelolah keuangan atau penghasilan selama satu bulan, perbandingan upah dari tahun ke tahun dan strategi khusus mamanage uang tanpa kekurangan berdasarkan persepsi sharing pengalaman. Sehingga study kasusnya murni dari seorang anggota Satpam yang berusaha mencukupi kebutuhan hidup.

Mengeluh "boleh-boleh saja" hal ini pasti dirasakan rekan-rekan Satpam lainnya "gaji tidak mencukupi, kebutuhan semakin bertambah terlebih transisi masa lajang kemudian mempunyai istri, kelahiran sih buah hati, kebutuhan anak sekolah, dan kebutuhan yang tak terduga lainnya. Tidak bisa dilupakan bahwa hal yang kecil lah, cara terindah menikmati rasa syukur karena masih terus berjuang bersama keluarga dengan menjalankan "Profesi Satpam".

Menyerah "tentu jangan" karena pada prinsipnya bila kita menyerah secara tidak sadar akan menurunkan energi positif yang tidak mendukung apa yang akan dikerjakan antara "hati dan pikiran tidak singkron" atau bertolak belakang untuk mencapai mimpi dan cita-cita di masa akan datang. Inilah yang harus diperjuangkan walaupun tidak diketahuinya kapan harus berubah baik dari sisi finansial, karir, mendapat pekerjaan baru dengan penghasilan lebih besar, dan lain sebagainya. 

#Kisah Tahun 2005-an :

Perspektif pengalaman waktu jadi anggota Satpam tepatnya 17 tahun lalu gaji sebesar Rp.1.050.000 (Satu Juta Lima Puluh Ribu Rupiah) yang diterima setiap bulannya. Memang secara "fakta dam kenyataan" gaji Satpam tidak mencukupi, kebetulan waktu itu saya tinggal di kos sendiri dengan rincian pengeluaran sebagai berikut : 

Biaya kosan/kontrakan Rp.200.000 :

Pada umumnya pengeluaran kosan/kontrakan ini dirasakan oleh anggota Satpam lainnya. Walaupun Satpam tersebut mungkin ikut orang tuanya ya setidaknya bantu-bantu untuk membayar biaya lisrik, air, dan bantu biaya lainnya. Logikanya biaya ini wajib dikeluarkan setiap bulannnya, sehingga secara otomatis gaji akan berkurang menjadi Rp. 850.000 (Delapan Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah). 

Biaya Makan Rp.600.000 :

Memang sudah menjadi kebutuhan bahwa makan tidak bisa dihindari bahkan orang bekerja menghasilkan uang tentu untuk makan dan minum. 600 ribu sebulan untuk biaya makan satu bulan berarti pengeluaran setiap hari 20 ribu, ini simulasi pada tahun  2005 dan tahun 2006 karena harga/biaya berbeda pada tahu 2022 saat ini. Bisa bayangkan 20 ribu digunakan untuk makan pagi, makan siang dan makan malam. Sisa gaji dari jumlah 1.050.000 menjadi 200 ribu rupiah.

Sisa Uang Rp.200.000 :

Sangat tragedis juga sih, sisa uang 200 Ribu "Ya" paling akan digunakan untuk membeli kebutuhan bulanan seperti perlengkapan kerja "semir, braso, dll" perlengkapan mandi "pasta gigi, sabun mandi, dll" jalan-jalan ke tempat wisata, jalan tempat keluarga/kerabat lainnya. Ini fenomena yang sangat luar yang dirasakan oleh Satpam khususnya untuk diri saya sendiri dan umumnya untuk Satpam Indonesia.

Jadi, gaji 1.050.000 tersebut tidak ada yang tersisa untuk kebutuhan dalam satu bulan. Untuk itu harus bisa mengatur penghasilan/upah walaupun pada akhirnya pinjam uang kepada saudara atau kerabat lainnya. Miris sekali, bila direnungkan pasti yang ada hanya mengeluh namun tetap bekerja karena masih mencintai sebagai seorang Satpam. 

#Kondisi Penghasilan Satpam Setiap Tahun:

Setiap tahun UMP/UMK tentu mengalami perubahan berikut presentasi kenaikan dari tahun ke tahun berdasarkan data dari Kompas.com (17/11/21), dengan uraian dibawah ini :

UMP DKI Jakarta 2005: Rp 819.100 (naik 6 persen)
UMP DKI Jakarta 2006: Rp 900.560 (naik 15,07 persen)
UMP DKI Jakarta 2007: Rp 972.605 (naik 9,95 persen)
UMP DKI Jakarta 2008: Rp 972.605 (naik 8 persen)
UMP DKI Jakarta 2009: Rp 1.069.865 (naik 10 persen)

UMP DKI Jakarta 2010: Rp 1.118.000 (naik 4,50 persen)
UMP DKI Jakarta 2011: Rp 1.290.000 (naik 15,3persen)
UMP DKI Jakarta 2012: Rp 1.529.150 (naik 18,54 persen)
UMP DKI Jakarta 2013: Rp 2.200.000 (naik 43,87 persen)
UMP DKI Jakarta 2014: Rp 2.441.000 (naik 10,9 persen)

UMP DKI Jakarta 2015: Rp 2.700.000 (naik 10,61 persen)
UMP DKI Jakarta 2016: Rp 3.100.000 (naik 14,81 persen)
UMP DKI Jakarta 2017: Rp 3.355.750 (naik 8,25 persen)
UMP DKI Jakarta 2018: Rp 3.648.036 (naik 8,71 persen)
UMP DKI Jakarta 2019: Rp 3.940.973 (naik 8,03 persen)

UMP DKI Jakarta 2020: Rp 4.267.349 (naik 8,28 persen)
Jakarta 2021 ditetapkan naik sebesar 3,27 persen menjadi Rp 4.416.186 dengan pengecualian akibat adanya pandemi Covid-19.

Data diatas menunjukan bahwa setiap tahun penghasilan Satpam terus bertambah sementara diimbangi harga/tarif atau nilai suatu barang terus meningkat artinya kenaikan upah Satpam sama saja tidak membuat Satpam sejahtera hanya tahun saja yang berganti. Keadaan ini terkadang hanya buat curhatan sesama rekan satu profesi Satpam, belum ada solusi yang membuat Satpam bangga.

Meskipun demikian itulah "pahit dan manis" menjalani profesi Satpam, kekurangan finansial sudah biasa namun pasti ada jalan untuk mencukupi kebutuhan hidup di akhir bulan, walaupun berhutang atau pinjam uang tetangga, rekan, keluarga dan lain sebagainya. Ini menjadi perjalanan hidup, bagi Satpam yang merasakan berarti mereka lah Satpam sejati yang meniti karir dari profesi Satpam.

#Strategi Ringan Mengatur Keuangan :

Menjadi harapan setiap insan Satpam bila bisa menyisihkan gaji/upah yang dihasilkan setiap bulannya. Kekuatan berpikir positif dengan hemat dan bisa menentukan segala prioritas dalam menetapkan kebutuhan yang akan dikeluarkan baik itu pengeluaran bulanan maupun pengeluaran tahunan.

Sebesar apapun penghasilannya bila tidak mengatur keuangan dengan baik, maka selamanya pasti tidak mencukupi "selalu merasa kurang". Karena pada hakekatnya manusia tidak pernah merasa puas, apalagi mengikuti nafsu apa yang diinginkannya. 

Gaya dan gengsi terkadang membuat Satpam tidak bisa mengontrol antara "kengininan dan kebutuhan" hal yang tidak menjadi prioritas dengan membeli barang padahal barang yang dibeli sudah ada yang sama dirumah, ini hanya contoh saja "bila ada kesamaan" ya itu adanya.

Maka dari itu, perlu mencatat atau membreakdown pengeluaran setiap bulan. Sebagai evaluasi upah/gaji yang digunakan setiap hari. Mungkin sudah biasa atau belum dilakukan tidak menjadi permasalahan juga "yang paling penting bisa hemat dalam mengelolah penghasilan dalam satu bulan".

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh Satpam tetap memilih segala prioritas atau ada kegiatan sampingan yang bisa menghasilkan uang dam tidak menganggu pekerjaan. Semoga bermanfaat untuk seluruh profesi Satpam Indonesia. 

Posting Komentar untuk "KECERDASAN SATPAM MENGATUR KEUANGAN"